Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan permintaan sarana transportasi meningkat. Dari sekitar 2 juta kendaraan bermotor, tercatat jumlah angkutan pribadi 86%, angkutan umum 2,51%, dan sisanya sebesar 11,49% adalah angkutan barang, padahal diketahui bahwa 57% perjalanan orang menggunakan angkutan umum (Tamin, O.Z. 2000).
Dalam konteks transportasi perkotaan, angkutan umum merupakan komponen vital yang signifikan mempengaruhi sistem transportasi perkotaan. Kondisi yang ada sekarang, angkutan umum yang ada dapat dikatakan kurang layak. Sehingga masyarakat cenderung lebih tertarik untuk menggunakan kendaraan pribadi.
Dalam upaya peningkatan pelayanan angkutan umum, pemerintah daerah berupaya menyediakan angkutan umum yang handal, cepat, aman, dan nyaman dalam bentuk Bus Rapid Transit (BRT).
Komponen kelayakan
Analisis kelayakan dalam studi angkutan massal perkotaan di Bali dilakukan untuk mengetahui berapa besar manfaat atau keuntungan yang diperoleh jika akan dibangun infrastruktur transportasi massal, yaitu berupa Bus Rapid Transit. Dari hasil analisis tersebut sangat menentukan dalam pengambilan keputusan apakah rencana BRT ini akan dilaksanakan atau tidak.
Proses analisis kelayakan
Perbandingan biaya (cost) dan manfaat (benefit) dan pengembalian (revenue) merupakan basis dalam menentukan kelayakan ekonomi dan finansial dari pembangunan dan pengoperasian BRT ini. Perbandingan biaya dan manfaat dilakukan menggunakan metode analisis Benefit Cost Ratio (BCR). Benefit Cost Ratio adalah perbandingan antara present value benefit dibagi dengan present value cost. Hasil dari suatu proyek dikatakan layak secara finansial bila nilai BCR > 1. Nilai BCR yang menunjukkan BCR kurang dari 1 menunjukkan investasi tidak layak.
Perhitungan biaya
•Biaya prasarana

•Biaya sarana
Untuk sarana yang digunakan adalah bus sedang. Kapsitas penumpang untuk masing-masing bus berkisar antara 21 sampai 36 penumpang. Harga satuan bus dengan kapsitas 36 penumpang adalah Rp. 450.000.000,00.
Dalam analisis ini, pendekatan-pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Komponen biaya dalam perhitungan merupakan penjumlahan biaya prasarana dan sarana.
b. Tarif tiket Rp. 3000,00
c. Jumlah penduduk tahun 2009 adalah 4.380.000 jiwa.
Maka perhitungan BCR adalah sebagai berikut:
BCR = present value present / present value cost.
Present value benefit didapat dari harga tiket x jumlah penduduk sebagai potensi pengguna kendaraan, yaitu Rp. 13.140.000.000,00. Sedangkan present value cost didapat dari jumlah pengeluaran untuk pembangunan prasarana dan sarana yaitu Rp. 15.332.495.967,00.
BCR = Present value benefit / Present value cost
= Rp. 13.140.000.000,00
= Rp. 15.332.495.967,00
= 0,856
Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara ekonomi, BRT tidak layak untuk di realisasikan, karena memiliki nilai BCR < 1, yaitu sebesar 0,856. Hal tersebut berarti nilai yang diinvestasikan tidak sebanding dengan pendapatan yang akan didapat.
Oleh : Arifin 3607100020
