Sabtu, 05 Juni 2010

Evaluasi Bus Rapid Transit di Bali Dengan Menggunakan Benefit Cost Ratio

Kota-kota di Indonesia terus mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu daerah yang terus berkembang adalah Bali. Sebagai daerah tujuan wisata internasional, perkembangan Bali harus diimbangi dengan ketersediaan transportasi yang memadai sehingga pergerakan antar kegiatan berjalan dengan lancar.


Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan permintaan sarana transportasi meningkat. Dari sekitar 2 juta kendaraan bermotor, tercatat jumlah angkutan pribadi 86%, angkutan umum 2,51%, dan sisanya sebesar 11,49% adalah angkutan barang, padahal diketahui bahwa 57% perjalanan orang menggunakan angkutan umum (Tamin, O.Z. 2000).
Dalam konteks transportasi perkotaan, angkutan umum merupakan komponen vital yang signifikan mempengaruhi sistem transportasi perkotaan. Kondisi yang ada sekarang, angkutan umum yang ada dapat dikatakan kurang layak. Sehingga masyarakat cenderung lebih tertarik untuk menggunakan kendaraan pribadi.


Dalam upaya peningkatan pelayanan angkutan umum, pemerintah daerah berupaya menyediakan angkutan umum yang handal, cepat, aman, dan nyaman dalam bentuk Bus Rapid Transit (BRT).

Komponen kelayakan
Analisis kelayakan dalam studi angkutan massal perkotaan di Bali dilakukan untuk mengetahui berapa besar manfaat atau keuntungan yang diperoleh jika akan dibangun infrastruktur transportasi massal, yaitu berupa Bus Rapid Transit. Dari hasil analisis tersebut sangat menentukan dalam pengambilan keputusan apakah rencana BRT ini akan dilaksanakan atau tidak.


Proses analisis kelayakan
Perbandingan biaya (cost) dan manfaat (benefit) dan pengembalian (revenue) merupakan basis dalam menentukan kelayakan ekonomi dan finansial dari pembangunan dan pengoperasian BRT ini. Perbandingan biaya dan manfaat dilakukan menggunakan metode analisis Benefit Cost Ratio (BCR). Benefit Cost Ratio adalah perbandingan antara present value benefit dibagi dengan present value cost. Hasil dari suatu proyek dikatakan layak secara finansial bila nilai BCR > 1. Nilai BCR yang menunjukkan BCR kurang dari 1 menunjukkan investasi tidak layak.



Perhitungan biaya
•Biaya prasarana













•Biaya sarana
Untuk sarana yang digunakan adalah bus sedang. Kapsitas penumpang untuk masing-masing bus berkisar antara 21 sampai 36 penumpang. Harga satuan bus dengan kapsitas 36 penumpang adalah Rp. 450.000.000,00.


Dalam analisis ini, pendekatan-pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut:
a. Komponen biaya dalam perhitungan merupakan penjumlahan biaya prasarana dan sarana.
b. Tarif tiket Rp. 3000,00
c. Jumlah penduduk tahun 2009 adalah 4.380.000 jiwa.

Maka perhitungan BCR adalah sebagai berikut:
BCR = present value present / present value cost.
Present value benefit didapat dari harga tiket x jumlah penduduk sebagai potensi pengguna kendaraan, yaitu Rp. 13.140.000.000,00. Sedangkan present value cost didapat dari jumlah pengeluaran untuk pembangunan prasarana dan sarana yaitu Rp. 15.332.495.967,00.

BCR = Present value benefit / Present value cost
= Rp. 13.140.000.000,00
= Rp. 15.332.495.967,00
= 0,856
Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara ekonomi, BRT tidak layak untuk di realisasikan, karena memiliki nilai BCR < 1, yaitu sebesar 0,856. Hal tersebut berarti nilai yang diinvestasikan tidak sebanding dengan pendapatan yang akan didapat.

Oleh : Arifin 3607100020

11 komentar:

  1. dalam suatu studi kelayakan seharusnya tidak hanya dilihat dari kelayakan ekonominya saja..namun juga dilihat dari kelayakan teknis dan operasonalnya.
    jadi menurut saya perlu diadakan studi kelayakan dalam aspek teknis dan operasional juga untuk menentukan bahwa BRT ini layak di implementasikan atau tidak..bukan hanya dari sisi ekonominya saja..

    BalasHapus
  2. Tepat sekali. memang untuk merencanakan suatu proyek tidak hanya dilihat dari satu aspek saja, tapi juga perlu meninjau aspek yang lain. saya hanya mencoba meninjau dari aspek ekonominya saja.
    perlu kajian yang lebih jauh mengenai dampak sosial maupun lingkungan.

    BalasHapus
  3. OVANE

    wah ane ko masi bingun yahh tentang metodenya..hehe

    namun, munkin layak juga yah sebagai kawasan pariwisata yang pasti punya route unggulan + para pengunjung dari saudara2 saya di amrik sana yang ga mungkin bawa skuter sendiri. :D

    sip blognya

    kunjungi juga ane di TV ONLINE !!

    http://itbusinesslibrary.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. wah sodara arifin sepertinya cukup paham konsep evaluasinya.

    memang benar perhitungan sodara tapi kerugian semacam itu belum tentu merugikan objek disekitarnya.
    sebagai tambahan juga sekaligus menambah jawaban bagi saudari kipti, perlu mnggunakan tambahan metode analisa IA juga.
    Hal ini dikarenakan teknik BCR hanya melihat objek (BRT) saja. sedangkan IA melihat aspek sekitarnya. bila dikombinasikan mungkin bisa menjadi analisa yang lebih menunjukkan seberapa menguntungkannya pembangunan BRT terhadap objek disekitarnya.

    BalasHapus
  5. saya hanya bisa mengomentari...
    mantab infonya..
    bisa buat masukan pemerintah kota bali...

    BalasHapus
  6. ini tiara.
    evaluasi BCR hanya bisa mengevauasi yang bersifat kuantitatif.
    dr hasil perhitungan BCR di ats, proyek BRT tidak layak untuk d jlnkan.trs rekomendasi apa yang anda tawarkan untuk mengatasi masalah ketersediaan transportasi umum di Bali?
    makasih...

    BalasHapus
  7. Infonya sangat membantu,..
    dengan semakin padatnya penduduk,..kebutuhn transportsi juga meningkat.sehingga angkutan massal seperti ini cukup dibutuhkan.

    sekedar tambahan saja,..dalam mengevaluasi jgn terpaku pada satu teknik evalusi sj,..

    smoga bermanfaat.^^

    BalasHapus
  8. kontennya sangat menarik..
    tapi, seperti pada komentar2 sebelumnya, bca dirasa kurang untuk menganalisis kelayakan BRT ini, karena tidak menghitung aspek sosial dan lingkungannya, juga tidak memperhitungkan keuntungan maupun kerugian secara global bagi transportasi bali, sehingga, menurut anda teknik apakah yang cocok mendampingi bca dalam menganalisis kelayakan BRT di bali?

    BalasHapus
  9. untuk evaluasi BCR sepertinya tidak ada komentar buat saya.
    tetapi evaluasi dalam konteks kebijakannya jadi kurang mengena, karena evaluasi dilakukan hanya dalam aspek ekonomi.
    cuma kritik saja, tapi mantab koq :)

    BalasHapus
  10. bagus juga idenya tentang transportasi di bali, karena di bali memang belum ada kendaran massal yang memadai..
    kan bali sudah tercemar..eh terkenal di negara luas,jadi harus ada evaluasi atau kebijakan mengenai alat transportasinya..

    BalasHapus
  11. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa memang kalau merencanakan atau meninjau sebuah proyek tidak hanyan melihat dari satu aspek saja. BCR mengevaluasi sebuah proyek dari segi finansial dan ekonominya saja. dan ini yang saja lakukan. terima kasih atas saran dari teman2...

    BalasHapus